Tapi disini aku pengen berbagi sesuatu yang mungkin bisa
dibuat bahan pertimbangan, seperti yang kakekku bilang, “orang yang masih bisa
merasakan sakit hati adalah orang yang paling lemah” jadi bisa dibayangkan kan,
bagaimana kakekku ingin aku menjadi orang yang kuat. Dalam keadaan lemah
seperti itu yang aku pikirkan kata-kata beliau, lalu aku teringat lagi ketika membaca
buku As a Man Thinketh. Dimana dalam satu babnya ada sebuah kalimat yang bikin
ngerasa malu, lupa gimana kalimatnya yang jelas intinya adalah tidak ada hal
yang memalukan daripada saat kita dikasihani orang lain. Nangis, marah, dan
sedih itu pastilah keadaan dimana seseorang akan merasa kasihan dengan kita.
Kalo yang aku baca di buku Laa Tahzan, itu kurang lebih
hampir sama, intinya adalah ngapain sih kita bersedih? Bersedih itu buang-buang
waktu, buang-buang energi. Padahal selalu ada sebuah jawaban setelah kita mau
bangkit dan tidak berlama-lama larut dalam pikiran tersebut. Dan aku yakin ya
semua pasti pernah ngalamin saat-saat terlemah dalam hidup. Merasa disakitin,
merasa nggak dimengerti. Kalo aku sedang dalam keadaan nangis begitu biasanya
kalo aku inget-inget semua ini aku merasa malu, aku merasa nggak perlu seperti
ini. Dan yang paling penting, aku nggak seharusnya merasa sakit hati.
Dan sedikit pelajaran yang bisa aku dapat dari buku yang aku
baca adalah dimana kita harus tidak melihat yang jahat. Contohnya; ketika A
membenci B karena menurutnya B itu suka marah-marah, nyebelin, dsb. Tapi yang
dilakukan A ini sama seperti yang dilakukan B itu. Dia membenci, dia juga
melakukan hal yang negative. Tapi A ini akan berkeras, “aku ga seperti B, aku
nggak suka marah-marah kayak dia.” A dengan membenci itu merasa bahwa B perlu
dibenci karena sifatnya. Sama seperti B tadi yang suka marah-marah, B tidak
merasa jahat, dia merasa marah-marah itu perlu dan benar. Karena semua orang
memiliki standar kebenaran sendiri-sendiri. Tapi orang bijaksana akan lebih
mengerti menganggap tindakan orang lain itu adalah karena ketidaktahuannya, dan
tidak membenci karena sudah paham prinsip kebenaran.
Dari sini bisa kita simpulkan kan, bahwa sebenarnya tidak
ada orang yang membuat kita sedih, membuat kita marah. Itu terjadi karena diri
kita sendiri. Seperti mengutip kalimat di As a Man Thinketh, “tidak ada orang
menderita karena orang lain, orang menderita karena dirinya sendiri,” setuju
banget, pastilah orang-orang yang suka update status, “inget karma does exist,”
pasti setuju deh sama kalimat di As a Man Thinketh, dan selalu berpikir dulu
aku nyakitin sapa ya kok sekarang aku disakitin. Dan itu lebih baik. Yang
paling baik adalah ketika seseorang sudah tidak memiliki kesalahan untuk
dimaafkan, tidak punya luka untuk diingat. Artinya dimana seseorang sudah bisa
berkata tulus, “apa yang harus saya maafkan? Merasa dia berbuat salah aja
tidak. Dia begitu karna tidak tahu. Dan kenapa harus terluka? Saya sudah tidak
bisa sakit hati karena tindakan orang lain, dia begitu karena tidak tahu.”
Semoga aku bisa seperti itu. Soalnya susah sih ya. Hehehehe. Bisa teori doang kok aslinya..? :p
0 comments:
Post a Comment