Friday, March 16, 2012

think of something happy...

Posted by Lita Suraja at 16:33
Ngomong ngomong tentang kesedihan. Hmmm. Sensi pasti yaa, apalagi klo sedih karena orang-orang terdekat. Mungkin habis dibohongi, disakitin, diapa-apain lah sampe bikin nangis hahaha. Nah itu masih mending, dibikin kayak gitu. Tapi ada loh orang perasaan ya nggak ngapa-ngapain tapi rasanya sakit hati dan sedih gara-gara seseorang (yang katanya gara-gara seseorang). Pernah kan ngalamin kayak gitu?
Tapi disini aku pengen berbagi sesuatu yang mungkin bisa dibuat bahan pertimbangan, seperti yang kakekku bilang, “orang yang masih bisa merasakan sakit hati adalah orang yang paling lemah” jadi bisa dibayangkan kan, bagaimana kakekku ingin aku menjadi orang yang kuat. Dalam keadaan lemah seperti itu yang aku pikirkan kata-kata beliau, lalu aku teringat lagi ketika membaca buku As a Man Thinketh. Dimana dalam satu babnya ada sebuah kalimat yang bikin ngerasa malu, lupa gimana kalimatnya yang jelas intinya adalah tidak ada hal yang memalukan daripada saat kita dikasihani orang lain. Nangis, marah, dan sedih itu pastilah keadaan dimana seseorang akan merasa kasihan dengan kita.

Kalo yang aku baca di buku Laa Tahzan, itu kurang lebih hampir sama, intinya adalah ngapain sih kita bersedih? Bersedih itu buang-buang waktu, buang-buang energi. Padahal selalu ada sebuah jawaban setelah kita mau bangkit dan tidak berlama-lama larut dalam pikiran tersebut. Dan aku yakin ya semua pasti pernah ngalamin saat-saat terlemah dalam hidup. Merasa disakitin, merasa nggak dimengerti. Kalo aku sedang dalam keadaan nangis begitu biasanya kalo aku inget-inget semua ini aku merasa malu, aku merasa nggak perlu seperti ini. Dan yang paling penting, aku nggak seharusnya merasa sakit hati.

Dan sedikit pelajaran yang bisa aku dapat dari buku yang aku baca adalah dimana kita harus tidak melihat yang jahat. Contohnya; ketika A membenci B karena menurutnya B itu suka marah-marah, nyebelin, dsb. Tapi yang dilakukan A ini sama seperti yang dilakukan B itu. Dia membenci, dia juga melakukan hal yang negative. Tapi A ini akan berkeras, “aku ga seperti B, aku nggak suka marah-marah kayak dia.” A dengan membenci itu merasa bahwa B perlu dibenci karena sifatnya. Sama seperti B tadi yang suka marah-marah, B tidak merasa jahat, dia merasa marah-marah itu perlu dan benar. Karena semua orang memiliki standar kebenaran sendiri-sendiri. Tapi orang bijaksana akan lebih mengerti menganggap tindakan orang lain itu adalah karena ketidaktahuannya, dan tidak membenci karena sudah paham prinsip kebenaran.

Dari sini bisa kita simpulkan kan, bahwa sebenarnya tidak ada orang yang membuat kita sedih, membuat kita marah. Itu terjadi karena diri kita sendiri. Seperti mengutip kalimat di As a Man Thinketh, “tidak ada orang menderita karena orang lain, orang menderita karena dirinya sendiri,” setuju banget, pastilah orang-orang yang suka update status, “inget karma does exist,” pasti setuju deh sama kalimat di As a Man Thinketh, dan selalu berpikir dulu aku nyakitin sapa ya kok sekarang aku disakitin. Dan itu lebih baik. Yang paling baik adalah ketika seseorang sudah tidak memiliki kesalahan untuk dimaafkan, tidak punya luka untuk diingat. Artinya dimana seseorang sudah bisa berkata tulus, “apa yang harus saya maafkan? Merasa dia berbuat salah aja tidak. Dia begitu karna tidak tahu. Dan kenapa harus terluka? Saya sudah tidak bisa sakit hati karena tindakan orang lain, dia begitu karena tidak tahu.”

Semoga aku bisa seperti itu. Soalnya susah sih ya. Hehehehe. Bisa teori doang kok aslinya..? :p

0 comments:

Post a Comment

 

EXPECTO PATRONUM!!! Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos