Saturday, May 9, 2015

a whole new world

Posted by Lita Suraja at 15:06
Well, finally I'd be someone's wife. Sebelumnya nggak pernah kepikiran untuk nikah secepet ini, ehm paling nggak sebelum ketemu dia. Yaiyalah, sp juga mau nikah di umur 24, still have so much thing to pursue. Still much thing to do with my self. Still have much time to look around :p. Lalu Tuhan pertemukan aku dengan dia.

Dia, 8 tahun diatasku. Dewasa, mateng, santai, dan orang yang sangat bisa calm down di situasi apapun. Ketemu di tempat ibadah(kerja = ibadah) itu salah satu pertanda baik kan? Dan pertama kali keluar malem-malem liat dia latihan teater, ngobrol dari jam 11 malem sampai jam 4 subuh. Dan waktu itu rasanya nggak pengen pulang. Something about him caught my eye (cieee).

Waktu pertama kali kita keluar aku hampir yakin itu adalah pertama dan terakhir kita keluar, karena aku sepertinya tidak memberi kesan baik dan di tempat kerja lagi seru-serunya banyak yang bilang aku ini kasar. Tapi, kalo Tuhan sudah berkehendak aku bisa apa? Hahaha. We have another meeting, another chit chat, quality time, knowing each other.

Ada banyak hal yang bikin aku sedikit demi sedikit yakin kalo memang dia lah yang aku cari. Ketika banyak kasak kusuk nyebar aku keluar sama dia, tapi dia tetep aja mau keluar sama aku. Tetep aja mau diajak makan malem. Trus belakangan pas udah jadian dia bilang, "kalo aku mau dengerin mereka udah kemaren2 aku gak mau keluar lagi sama kamu. Tapi ngapain aku dengerin mereka, yang tau kamu kan aku, aku lebih tau km seperti apa, gak ada urusan sama mereka."

Trus alasan lain, he was one and only man I ever met and know and he didn't have sex orientation in relationship. Dulu waktu sering keluar malem berdua, aku sempet mikir negatif kalo dia pasti sama aja seperti cowok-cowok lain yang aku kenal, apalagi waktu pertama di Jogja, kenal 2 cowok yang baru keluar udah sepik-sepik ngajak ke kosan. Haha. Ya jelas aku berpikir he will do same thing. Tapi selama aku sering keluar sama dia, dia sangat-sangat sopan, yang diomongin ya cuma kerjaan, dan daily activities, Nyeletuk "dirty jokes" aja gak pernah. Nanggepin dirty jokes-ku juga gak pernah wkwkwkwk. Dasar cowok yang langka.

Sampai akhirnya kita pacaran, aku sempet mikir kalo dia sabar itu cuma awal-awal. Based on my lovelife, semua cuma sabar sama aku di awal. Dan lagi-lagi negative thinking-ku nggak kebukti. Until we have one year relationship he still  the same person I knew for the first time. Masih nggak bisa marah, masih yang kalo geregetan cuma bilang "aku boleh marah nggak kalo kamu gini?" "please mengertilah" "kita harus belajar saling mengerti, Jend"

Yang terakhir, dia nggak pernah menggurui masalah agama, dia nggak pernah nyuruh2 aku untuk sholat. Tapi dia lakukan hal itu di depanku, mampir ke kos untuk sholat. Dari yang awalnya cuma nonton tv pas dia sholat, akhirnya juga ikut jamaah.Cara mengajaknya bukan maksa dan sok ngingetin tapi dengan dia memberi contoh dengan dia sendiri melakukannya.

I think I was more more better since I've met him. Dari situ aku punya keyakinan dengan ajakan menikah dari dia kalo aku nggak boleh nolak dan nggak boleh nunda-nunda lagi. The right man in the right time. Dan dengan semua itu aku rasa aku udah dapat lebih dari yang seharusnya aku dapet, tapi Tuhan emang luar biasa, aku masih dikasih bonus calon suami yang nggak ngerokok dan minum-minum.

Kita cuma yakin bahwa pernikahan ini ibadah, dan apapun cobaan yang ada bisa kita hadapi karena kita berjalan di jalan yang benar. Selama banyak cobaan itulah aku semakin yakin kalo aku akan menikahi orang yang tepat. Masih bisa gitu tenang dan santai(keliatannya) apapun yang terjadi. Dan yang paling penting dia itu selalu menemukan solusi, walaupun harus dijalanin sendiri pun dia nggak ngeluh. Dan dia orang yang jarang banget minta bantuan, dan nggak enakan kalo harus minta bantuan. Jadi sebisa mungkin meminimalis hal-hal yang ngerepotin orang lain.

Jadi sebulan sebelum nikah, hampir tiap hari aku nangis karena takut semuanya nggak berjalan baik. Dan peran dia sebagai calon suami bener-bener bikin aku yakin kalo dia-lah "The Right Man." Dia slalu menenangkan, dia meyakinkan aku kalo semuanya akan baik-baik saja("gak mungkin acaranya jelek Jend, aku ini biasa ngurusi event")

Dan dia menuruti apa yang bisa dia turutin, mulai dari kebaya nikah yang pendek, kata-kata mutiara di undangan, undangannya seperti apa, tempat cincinnya seperti apa. Walaupun itu harus ada unsur-unsur Harry Potter yang dia tau aku suka banget dan dia gak suka, dia tetep mau nuruti itu. Dia mengusahakan apa yang bisa dia usahakan, dia mengerjakan sendiri apa yang dia bisa untuk membuat acara ini seperti yang aku mau. Walau pada akhirnya budget juga yang bicara, but he was showed the best he can do. Dan walau jalan acaranya tidak sesuai yang kita harapkan, acara di Surabaya tidak berjalan sesuai yang aku mau, tapi pernikahan ini menunjukkan idealis kita. Menunjukkan bahwa acara ini terlaksana, ada dan terjadi karena kita memang menginginkannya.

Terima kasih ya, Teja Suraja, suamiku, kamu selalu ada, selalu disampingku, selalu ngalah, selalu mementingkan aku, selalu minta maaf walaupun kamu nggak salah, selalu bikin aku merasa disayang, dan yang paling bikin aku bahagia kamu selalu berusaha untuk mengerti aku. :') (Aku nangis loh waktu nulis ini, nangis terharu)

Let me share this whole new world with you...

PS:
especially thanks to...

Mas Tikus dan Mbak Ajeng, kita hutang banyak sama kalian. Bantuan kalian dari prewed, ngelipetin undangan, dan kehadiran kalian di Surabaya sekalian bantuin dekor juga. Mas Teja sampai bilang berkali-kali gimana caranya bales kebaikan kalian. YOU GUYS ROCK!!!

Kakak Hesti yang baik hati yang kasih kita tiket dan hotel selama di Bali. Dan spare time untuk kita. Nemenin kita terus. Bener-bener unforgettable wedding present. Kita berdua sayang banget sama Kakak.

Mbak Sisca yang kayak malaikat. Yang beli tiket ke Surabaya sebelum undangannya jadi. Yang slalu tanya persiapannya. Yang bela-belain bangun jam 5 pagi untuk make up prewedding-ku. Yang datang pas akad. Bantuin pindahan kosan juga. Ini juga kita nggak ngerti sebenernya Mbak Sisca hatinya terbuat dari apa.(ciee)

Yola dan Linda, kalian udah bantu banyak banget. Kalian emang sahabat terbaik guys. Kalian ada di malam sebelum aku nikah, bantuin Mas Teja dekor juga. 

Mas Bagong yang mau bangun pagi buat fotoin kita.Mas Tri yang bela-belain ambil cuti untuk nganter kita nikahan di Surabaya. Mbak April yang mau jauh2 dari Jogja ke Surabaya cuma buat bantuin dekor haha. Mbak Dida yang bantuin dekor juga sampai jam 3 pagi. Heksa dan Cyta yang selalu mau direpotin untuk prepation di Surabaya.

Yang pasti buat keluarga yang udah spend much time and money for us :)

Buat temen-temen yang selalu nampung curhatan, tangisan dan kekhawatiranku, makasih udah selalu ada. :)


Kalo orang bilang "rejeki menikah itu ada aja", ya KALIAN lah rejekinya. TERIMA KASIH YA :)





Perfect Captured, thanks Mas Bagong :)












 
YES SAHHH!!!


my best friends!!!


HAPPY HONEYMOON FOR US



angels :*

0 comments:

Post a Comment

 

EXPECTO PATRONUM!!! Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos